Bahaya Bullying Kekerasan Fisik Atau Psikis

Bahaya Bullying Kekerasan Fisik Atau Psikis

Dampak Bahaya Bullying Kekerasan Fisik Atau Psikis

Masa remaja merupakan suatu pase perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, dimana pada masa ini remaja memiliki kematangan emosi, sosial, fisik dan psikis, remaja juga merupakan tahapan perkembangan yang harus dilewati dengan berbagai tingkat kesulitan permasalahan nya sehingga dengan mengetahui tugas-tugas perkembangan remaja dapat mencegah konflik yang ditimbulkan oleh remaja dalam keseharian yang sangat menyulitkan masyarakat.

Lemahnya emosi seseorang akan berdampak pada terjadinya masalah di kalangan remaja, misalnya Bullying yang sekarang kembali mencuat di di media, kekerasan di sekolah ibarat fenomena gunung es yang nampak kepermukaan hanya bagian kecilnya saja akan terus berulang jika tidak ditangani secara tepat dan berkesinambungan dari akar persoalannya.

Menurut psikolog Seto Mulyadi  “Bullying disebabkan karena menurutnya : saat ini remaja Indonesia penuh dengan tekanan, terutama yang datang dari sekolah akibat yang padat dan teknis pengajaran yang terlalu kaku”.

Bullying arti harfiahnya : Penindasan adalah perilaku seseorang atau sekelompok orang secara berulang yang memanfaatkan ketidakseimbangan kekuatan dengan tujuan menyakiti targetnya secara mental atau secara fisik, kekerasan fisik dan penyerangan ( mendorong, memukul dan menendang) intimidasi pencurian uang atau barang lainnya bisa berbasis suku, agama, gender dan lain-lain, Bullying merupakan suatu bentuk ekspresi aksi bahkan perilaku kekerasan. 

Bahaya Bullying

Komisi perlindungan anak Indonesia (KPAI) memberi pengertian Bullying sebagai kekerasan fisik dan pisikis ada beberapa jenis bullying antara lain :

  • Bullying secara Verbal  berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan baik bersifat pribadi maupun rasial, adalah jenis bullying yang paling mudah dilakukan kerap menjadi awal dari perilaku bullying yang lainnya serta dapat menjadi langkah pertama menuju pada kekerasan yang lebih jauh,
  • Bullying secara fisik yang termasuk jenis ini adalah memukuli, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit emiting, mencakar serta meludahi anak yang ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan merusak serta menghancurkan barang-barang milik anak yang tertindas, adalah yang paling tampak dan mudah untuk diidentifikasi,
  • Bullying secara Rasional digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau bahkan untuk merusak hubungan persahabatan adalah pelemahan harga diri si korban secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran, perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap yang tersembunyi seperti pandangan yang agresif , lirikamn mata, helaan nafas, bahu yang bergidik cibiran, tawa mengejek dan bahasa tubuh yang kasar diawali masa remaja, saat ketika remaja mencoba untuk mengetahui diri mereka dan teman-teman sebayanya.
  • Bullying Elektronik merupakan bentuk dari perilaku bullying yang dilakukan pelakunya melalui sarana elektronik seperti komputer, handphone, internet, website, chatting room, e-mail, sms dan sebagainya.ditunjukan untuk meneror korban dengan menggunakan tulisan,animasi, gambar dan rekaman vidio atau flem yang sifatnya mengidentifikasi menyakiti atau menyudutkan, bullying jenis ini biasanya dilakukan oleh kelompok remaja yang telah memiliki pemahaman cukup baik terhadap sarana teknologi informasi dan media elektronik lainnya

Salah satu faktor terbesar penyebab anak melakukan bullying adalah temperamen, temperamen adalah karakteristik atau kebiasaan yang terbentuk dari respon emosional, hal ini mengarah kepada perkembangan tingkah laku

Bullying adalah fenomena yang telah lama terjadi dikalangan remaja, kasus bulying biaasanya menimpa anak sekolah, pelaku bulying akan mengejek kawannya sehingga kawannya tersebut jengkel, atau lebih parah lagi korban bulying akan mengalami defresi dan hingga timbul rasa untuk bunuh diri, bulying harus dihindari karena bulying mengakibatkan korbannya berpikir untuk tidak berangkat kesekolah karena disekolahnya ia akan di bulli oleh sipelaku, bullying juga dapat menjadikan seorang anak turun prestasinya karena merasa tertekan sering di bulli oleh pelaku sekalipun bullying sudah menjadi masalah selama berabad abad.

Hendaknya pihak sekolah proaktif dengan membuat program pengajaran keterampilan sosial, problemsolving, manajemen konflik dan pendidikan karakter, guru memantau perubahan sikap dan tingkah laku siswa di dalam maupun di luar kelas dan perlunya ada kerjasama dengan beberapa pihak, orang tua menjalin kerjasama dengan pihak sekolah.

Orang-orang yang di bully dimasa kecil dilaporkan cenderung lebih memiliki masalah mental pada masa dewasanya dibandingkan dengan orang-orang yang pernah dianiyaya oleh orang dewasa termasuk dengan orang tua mereka.

Sejumlah peneliti dari university of Warwick dan bekerja sama dengan Duke Medical Centre di Inggris, penelitian ini di liput secara luas oleh media namun hasil yang mengatakan bahwa anak korban bullying berisiko lima kali lipat menderita masalah kegugupan ( anxiety disorder) dibanding dengan anak korban aniaya orang dewasa dinilai menyesatkan.

Kasus bullying atau kekerasan disekolah maupun dilingkungan sering terjadi dan sering muncul kepermukaan namun kurang mendapat perhatian dari pihak sekolah baik kepala sekolah maupun guru-guru bahkan orang tua sekalipun, kejadian bullying dianggap hal biasa dan bisa diselesaikan secara kekeluargaan, padahal dampak atau trauma yang dialami anak-anak korban bullying tidak akan terhenti hanya dengan terselenggaranya masalah tersebut. Apa yang mesti orang tua dapat lakukan :

– Selalu amati dan kenali perilaku anak-anak kita sehari hari, bila ternyata anak kita merupakan korban dengarkan apa yang ingin ia sampaikan ( meskipun kesannya sepele ) aku ga mau sekolahaku gak suka temanku … temanku jahat, pada anak yang lebih kecil biasanya akan mengatakan “temanku nakal” kurang lebih “cry for help “ mereka adalah seperti itu jadilah orangtua yang mau mendengarkan memahami dan memberikan perhatian dengan penuh kasih sayang pada anak,

– Ajarkan anak untuk berbicara dan terbuka pada orang dewasa disekolah, misal guru, wali kelas, guru BP, kepsek, semuanya berasal dari rumah dengan selalu membuka komunikasi yang terbuka sehat dan positif serta penuh kasih sayang pada anak, untuk tetap berada di kelompok terutama di waktu yang tidak terawasi guru

– Tidak terlalu disarankan untuk to fight back pada pelaku tetapi cukup mengatakan : hentikan, saya tidak suka dengan perlakuan kamu dan kemudian tinggalkan pelaku, pastikan bahwa anak merasa nyaman untuk menjadi dirinya ini yang penting tentunya.

Kita bersama-sama menciptakan kualitas pendidikan yang lebih baik untuk menghasilkan anak didik yang berkualitas tidak boleh ada kekerasan kekerasan oleh guru pada murid atau bullying, kita prioritaskan semua sekolah ramah anak ini sangat penting karena menyangkut hak anak dalam mendapatkan pendidikan secara penuh. Oleh : Enti Rayati *** .*(Bahan : Hibar Sabilungan)***