Muhasabah Pendidikan Akhir Tahun

Muhasabah Pendidikan Akhir Tahun

muhasabah pendidikan,muhasabah akhir tahun

Sudah Saatnya Muhasabah Pendidikan Dilakukan

Entah sampai kapan Covid-19 berakhir, yang jelas kata adaptasi menjadi kata kunci yang harus kita laksanakan untuk mengimbanginya. Betapa tidak, keadaan ini memaksa seluruh ummat manusia berdiri tegak, melawan dari ketidakpastian menjadi peluang untuk mencitakan suasana yang terbiasa. Nampaknya kita terlalu nyaman dengan keadaan sebelumnya, tumbuh suburnya tanah air beta membawa tidur nyenyak dalam mimpi panjang. Saat terbangun, gagap keadaan berubah segalanya. Kenyamaan menjadi ketidaktentuan, di mana-mana korban bergelimang. Bahkan yang lebih menakutkan, tanpa tanda begitu cepatnya, usia seseorang dijemput malaikat maut, kendati hak perogratif.

Tidak kecuali dunia pendidikan, nampaknya harus belajar dan belajar. Bukankah dengan belajar kita akan menjadi cerdas?

Tahun 2020 menjadi catatan tersendiri, bagaimana dunia menjadi ketidakpastian, ternyata kita masih tetap bebal dengan keadaan. Meningkatnya korban covid yang terus berkembang tidak menjadi “ketakutan” yang harus ditaati, malah sebaliknya menganggap hal biasa. Jargon cuci tangan, memakai masker, dan jaga jarak, belum juga terbiasa. Tidak ada lagi rasa malu, semuanya dilabrak demi kebebasan. Nampaknya, kita wajib muhasabah, jangan-jangan dunia pendidikan belum berhasil memberikan warna kesejukan.

Ancaman drop out (DO) peserta didik di depan mata, terlihat dari; anak harus bekerja membantu orangtua, sekolah seakan tidak memberikan solusi kehidupan, kesenjangan capaian belajar, terhambatnya pertumbuhan usia emas pada pendidikan anak usia dini, dan yang tidak diharapkan anak stress, KDRT, mengakibatkan learning loss.


Sudah sampai sejauh mana dunia pendidikan memberikan angin kesegaran?

Jelas mau tidak mau kita harus memberikan solusi, bukan prustasi. Cukup indah sebenarnya, mulailah kesadaran dari diri sendiri. Bukankah kita sebagai “guru” yang digugu dan ditiru, suaranya adalah sabda dan lakunya malaikat kebaikan?


Suasana yang tidak menentu, paling tidak terjawab seperti yang disampaikan oleh DR. H. Juhana, M.M.Pd. Kepala Dinas Kabupaten Bandung, Jum’at, 1 Januari 2020, saat berdiskusi dengan penulis. Menurutnya; anak bekerja membentu orangtua jadikan sebagai pendidikan vocasi, seera adakan parenting daring/luring hingga orang tua sisa tahu peran sekolah, adakan layanan khusus bagi anak terkendala (kesenjangan itu alami), adakan parenting daring/luring (guru kunjung) hingga partisipasi PAUD tetap ada, lebih baik learning loss daripada health loss/lost a life (adakan matrikulasi pembelajaran), hindari anak stres dengan pola belajar yang menyenangkan dan tingkatkan komunikasi guru dengan anak baik daring maupun luring (fakta secara umum anak lebih stres sekolah daripada di rumah).

Semenara untuk mencegah learning loss pada masa pandemi covid-19 karena BDR :

  • Pastikan ada komunikasi/interaktif inten antara guru dan siswa baik dengan daring maupun luring,
  • Pastikan model pembelajaran dapat mendeteksi keikutseraan siswa,
  • Penyederhanaan kurikulum,
  • Pastikan monitordan evaluasi pembelajaran berjalan secara rutin,
  • Lakukan deteksi dini adanya individual loss contact,
  • Lakukan model pembelajaran individual bagi siswa yang terkendala (Individualised Program Educational).

Sedangkan fungsi rumah saat BDR menurutnya; rumah sebagai pusat pendidikan yang pertama dan utama, rumah sebagai wawasan wiyatamandala, rumah sebagai sumber belajar, rumah sebagai media belajar, rumah sebagai pusat PPK, rumah sebagai penguat dan Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta rumah ramah anak.

Muhasabah Pendidikan selama tahun 2020 akan terbukti manakala pelayanan sudah melekat pada kita. Keterbataan peserta didik dalam menerima berbagai informasi pengetahuan, menjadi tantangan tersendiri. Guru kunjung adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan. Misi kita tidak hanya menyampaikan pembelajaran, akan tetapi sampai sejauh mana peserta didik dalam hidup dan kehidupannya. Komunikasi kita dengan orangtua menjadi sarana yang tepat untuk duduk bersama, bahwa tugas mendidik tidak hanya sebatas di sekolah.

Kita sudah mafhum pendidikan adalah sebuah proses belajar ilmu pengetahuan, keterampilan dan juga suatu kebiasaan dari sekelompok orang yang telah diturunkan dari satu keturunan ke keturunan yang berikutnya melalui pelatihan, penelitian dan juga pengajaran. Ada yang mengatakan pengertian dari pendidikan yaitu sebuah usaha kesadaran yang telah dilakukan dengan cara sistematis untuk dapat mewujudkan suasana belajar mengajar dengan harapan seluruh peserta didik bisa mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sendiri.

Dengan timbulnya suatu pendidikan, seseorang akan semakin cepat untuk mempunyai kecerdasan, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan dan juga kekuatan spiritual yang akan sangat berguna untuk dirinya sendiri dan juga orang lain.

Kata pendidikan di dalam bahasa Inggris sering disebutkan dengan kata Education, yang mana asal muasal dari kata itu diambil dari suatu bahasa Latin yang disebut dengan Eductum. Dan kata Eductum memiliki kata yang terdiri dari dua kata, yaitu kata pertama E yang berarti perkembangan yang terjadi dari dalam keluar, dan kata kedua yaitu Duco yang berarti sedang berkembang. Akhirnya jika dilihat pengertian pendidikan dari arti katanya yaitu sebuah proses untuk bisa mengembangkan kemampuan yang ada pada diri sendiri dan juga pada kekuatan seseorang.

ki hajar dewantara,muhasabah pendidikan

Sementara bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara memberian pengertian pendidikan merupakan suatu proses yang dapat menuntun semua kekuatan kodrat yang ada di diri peserta didik, hal tersebut supaya peserta didik sebagai manusia dapat menggapai kebahagiaan dan juga keselamatan yang setinggi-tingginya. Inilah pijakan kita, bagaimana membawa peserta didik menjadi pribadi yang sukses lahir dan bathin.

Perkembangan covid-19 yang tidak bisa diprediksi tidak lagi menjadi halangan bagi kita untuk memberikan yang terbaik. Mari kita saling kolaboras apa yang bisa kita lakukan, tidak ada lagi saling melepas tanggungjawab.

Pendidikan adalah tugas bersama, sehingga solusi dari muhasabah pendidikan akan berhasil. Tidak ada lagi korban gara-gara PJJ, orangtua tega membunuh anaknya sendiri karena “ogah” belajar. Semoga pendidikan kita semakin dewasa.  Oleh : Drajat, S.Pd.M.M.Pd, Wakasek Kurikulum, Guru Matematika SMPN 1 Cangkuang, Kab. Bandung.

.