Vodka Ditelan Senja

Vodka Ditelan Senja

Berharap saat matahari terbenam jauh lebih indah terasa di metropolitan karena imajiku dan ilusimu yang terpaut satu. Ruas jalan dan trotoar terkesan damai walau kau hampir terteguk pengaruh alkohol berkadar rendah. Kala itu mengajarkanku bahwa kulit kacang yang kasar dan kusam tak berarti isinya memiliki unsur yang sama. Halus dan cerah walau pucat yang berkebalikan dengan keadaan nyata.

***

Jam pertemuan sampai petang seperti ini rasanya telah menjadi garis hidup mahasiswa dengan dosennya. Arny tertegak dengan tentengan buku novel di tangannya. Kacamata gaya bertengger di pangkal hidungnya memberi kesan manis.

Sebuah botol kaca berwarna cokelat gelap tergelinding di jalanan. Sampai akhirnya terpentok ujung sepatu yang menapaki jalan menuju rumah setelah menekuni bidang matematika. Kacamatanya merosot dengan tertunduknya Arny menatap botol yang kini di hadapannya. Ia membungkuk dan memulungnya, kemudian mencari keberadaan si pembuang botol melompong itu.

Seorang laki-laki tengah terduduk lesu di sisi trotoar. Lututnya tertekuk ke atas dan menopang kedua lengan kekarnya. Tatap kosong menunjukan keberatan beban pikirannya.

Untuk sejenak Arny mendelik. Nampaknya raut murung itu tak lagi asing dalam ingatannya. Dia mengenalinya sebagai mahasiswa fakultas astronomi jika tak meleset memorinya. Arny prihatin dengan tampak psikisnya. Mata hitam membundar penuh. Nama lelaki itu Ta’af. Arny mengenalinya saat seminar kemandirian bulan lalu sepintas.

Dengan rasa sekutip ragu dan sebesit rasa malu, Arny mendekatinya. Barangkali keberadaanya mampu mencetus kelegaan hati dalam diri Ta’af. Atau sebaliknya?

Arny duduk di sebelahnya menyisipkan jarak pendek antara mereka. Ditaruhnya botol itu disampingnya. Namun, Ta’af tak kunjung menoleh ke arahnya. Membuat Arny bingung harus memulai darimana.

“Sedang apa disini?” sekedar basa-basi. Arny beberapa kali menahan kacamatanya agar tak meluncur mengikuti tulang hidungnya. Ta’af hanya menoleh ke arah Arny, ia tersenyum miring dan mendengus sekenanya. Lalu memalingkan wajah ke asal semula.

“Nah, kamu, sedang apa disini? Ikut duduk disini?” Ta’af sarkastik. Sensitif pula. Arny hanya menunduk diam. Seketika menyeruak bau alkohol dari nafas Ta’af.

“Kamu mabuk? Mau aku lapor ke kepala dosen?” Arny tak kalah sarkastik darinya.

“Kamu tetep mau duduk disini? Atau mau pergi?” Ta’af kembali menolehkan wajahnya. Kini, Arny yang enggan menatapnya. Arny pun hanya diam dan menatap aspal dingin yang gelap. “Ya, sudah, aku saja yang pergi,” lanjut Taaf. Ia bangkit dan memakai jaket yang tadi ditenggerkannya di bahu. Setengah berlari ke arah sepeda motornya yang terparkir di sebuah kafe kecil. Ta’af pun bablas meninggalkan Arny yang mendecak kesal.

***

Senja berikutnya, Ta’af baru keluar dari kafe langganannya dengan segenggam botol minuman beralkohol persis seperti yang kemarin ia tengguk. Ia meraih alat pembuka tutup botol yang digantung dekat pintu keluar. Kemudian tersenyum puas dan hendak meneguknya.

Tak jauh dari sana, Arny terbelalak saat melihat Ta’af yang membawa botol maut itu keluar dari kafe. Saat Ta’af berhasil melesatkan tutup dari mulut botol, Arny belari sekilat kuda liar dengan isi tas yang terguncang acak.

Baru saja tertempel bibir dengan mulut botol, seseorang telah menghempas botol mengkilap itu hingga pecah diatas area pejalan kaki. Cairannya menggenang disana, botolnya terbelah bahkan beberapa partikel menjadi debu yang terhembus angin sepoi disenja hari. Tak hanya partikel debu yang terambang, bahkan partikel bau alkohol pun turut serta.

Arny hanya memperhatikan bagaimana airnya mengalir setelah ia berhasil memecahkan botolnya. Muka merah padam mengarah padanya. Tangan terkepal bak siap menombak hati kecil yang tulus peduli. Namun, Ta’af sadar, Arny begitu bukan dengan maksud jahat. Hingga tangannya tak lagi terkaku keras, mukanya pun kini tak berapi marah.

“Kenapa kamu lakukan itu? Aku tak mengerti jalan pikiranmu yang sedia mengusik hidupku,” tahan Ta’af dibuat setenang mungkin nada bicaranya.

“Alkohol tak akan membasmi masalahmu, juntrungannya malah menambah masalahmu.” Arny menyipitkan pandangannya, dan kini Ta’af tersandar dipermukaan dinding kafe dan tubuhnya kian lama terduduk ke bawah.

“Kau seperti ibuku. Aku rindu padanya.” Ta’af tersenyum kecut. Menyadari sikap peduli yang tiada tandingannya. Terasa ada yang mencegat tenggorokkannya dan menengadah untuk menahan alir deras matanya.

“Masih ingat kan penggalangan dana minggu lalu? Itu untukku, dan, mungkin tahlil ibuku,” lanjutnya.

Arny menatapnya sendu. Dugaannya salah besar atas penilaian bahwa Ta’af lelaki nakal yang tak peduli agama karena gemar melayangkan isi kepala. Namun, maksudnya hanya melayangkan rasa frustasi dipikirannya. Arny pun tersenyum dan menarik tangan Ta’af hingga bangkit.

“Kamu lihat awan itu! Bayangkan . . . oh iya tampaknya seperti kuda poni, bahkan pegasus! Dia akan terbang ke surga menemui ibumu. Apa yang akan kamu titipkan?” Arny menatap segumpal awan dan sedikit menjerit saat berkata pegasus.

“Aku tak percaya anak kecil sepertimu.” Ta’af menolak memberi harapan pada sang pegasus, dan menengok paras jelita Arny. Terlihat gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal. Ta’af terkekeh kecil kemudian beralih menatap awan yang sama. Ia memejamkan mata,

“Pegasus yang lembut, titip salam rindu untuk ibuku dan terima kasih telah mengirimkan aku peri yang suka mengkhayal bahwa pegasus akan menghambur terbang ke surga.”

Bertepatan dengan mata Ta’af yang membuka bulat, panas pipi Arny membakar ronanya yang tertunduk dengan senyum seutas.

***

Ta’af menunggu waktu pulang yang biasa Arny jadwalkan dengan mendampar dipinggir trotoar seperti biasa. Namun, tak digenggamnya lagi minuman haram itu. Motornya terparkir disampingnya dengan gagah. Tak lama, terlihat dari kejauhan tubuh mungil semampai dan berkacamata. Ia bangkit lalu sedikit melambaikan tangannya ke udara, kemudian berlari kecil menghampirinya.

Arny sontak terkejut, tak biasanya lelaki sinis itu bersikap layaknya teman. Ta’af pun mendekat, lalu menarik pergelangan tangan Arny tanpa permisi. Hampir tersandung karena dipaksa, untung tak tersungkur. Saat sampai di trotoar semula, Ta’af duduk kembali dan menepuk tempat disebelahnya sebagai isyarat. Arny pun duduk memahami komando yang diberi. Keduanya terdiam, hingga Arny bergeming,

“Apa kebiasaanmu memang mabuk? Ohiya, bagus sekali kamu tak lagi minum sekarang. Aku senang!”

“Kamu terlalu berlebihan! Itu hanya vodka, kadarnya rendah. Sebenarnya aku tak suka, hanya pelampiasan waktu senggang semenjak tak dapat lagi bercanda dengan ibuku.” Ta’af mengungkapnya enteng, seakan memang bukan masalah yang besar.

“Turuti apa perintahku! Yang pertama jangan melampiaskan perasaanmu pada alkohol, itu tak baik untuk kesehatan! Yang kedua, sekarang pejamkan matamu, dan ucapkan apa keinginan dan harapanmu!” Arny menggerakan tangannya seolah itu adalah perbincangan yang serius. Ta’af menghembus nafas kasar dan menatap Arny malas.

“Jangan membantah!” Telunjuk Arny berada tepat didepan hidungnya. Dan Ta’af pun menutup mata sambil berdo’a.

“Aku pun akan meminta!” Arny ikut memejamkan matanya.

“Sekarang hitung berapa mobil putih yang melintas! Dan aku akan hitung yang hitam,” perintah Arny saat mata keduanya kembali terbelalak.

“Untuk apa?” Sepertinya Ta’af mengajak Arny duduk bersama bukan untuk hal seperti ini.

“Ikuti saja! Hitung mulai dari sekaraaang!” suruh Arny bersemangat, berbeda dengan lawannya yang meniti tiap biji mobil yang melintas. Berkelanjutan seperempat jam kemudian.

“Berapa yang kau hitung?” tanya Arny.

“Dua puluh tiga,” tanggap Ta’af walau malas.

“Ini maknanya, dua puluh tiga mobil tadi akan melesat ke surga. Dan harapan juga keinginanmu tadi tentu akan diantar dengan mobil-mobil itu. Harapku kalah banyak pengantarnya, hanya enam belas yang lewat. Padahal biasanya mobil hitam banyak. Kau titip rindu untuk ibumu juga kan?”

“Tentu saja.” Ta’af tersenyum haru dibalik permainan filosofis Arny.

***

Sosok yang biasa mengerami trotoar itu tak ada lagi senja ini. Arny melirik arlojinya, memang jam-jam ini mereka selalu bersama diujung senja.

Derap kaki bergemuruh begitu terdengar karena penciptanya yang terburu-buru. Seorang lelaki asing menepuk bahu Arny, menolehnya Arny ke belakang membuat lelaki itu tersenyum.

“Satu titipan terakhir dari dia. Kau tau itu siapa. Aku pergi dulu.” Si pengantar surat hendak kembali, namun Arny mencegahnya.

“Tunggu sebentar.”

Benar katamu. Pegasus itu menyampaikan salamku. Mobil kemarin pun menjawab harapku. Mungkin saat kamu menerima surat ini, aku tengah sekarat bahkan meninggal. Kamu tau? Aku merasa berdosa padamu karena pernah bersikap tak baik padamu. Alkohol memang berbahaya walau sedikit. Lambungku sakit dan aku benci mengeluarkan darah saat terbatuk. Tapi, aku senang kamu menganjurkanku untuk berharap. Karena harapanku kemarin adalah bertemu ibu, dan ini waktunya. Ternyata masih ada harapan diujung senja terakhirku. Salam penuh sayang untukmu, dari Ta’af.’

Suratnya berakhir sampai situ. Bahkan pertemuannya hanya beberapa jam dalam beberapa hari. Tapi, polah tingkahnya melekat dalam hati. Rasanya membekas, Arny telah dekat dengan teman barunya.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Arny dengan mata memanas dan meremas kertas berpesan singkat digenggamannya.

“Dia meninggal. Tiga jam yang lalu.” Tanpa disuruh dan tak pamit pula, lelaki itu berlari pulang dan hilang ditelan persimpangan.

“Mobil hitamnya tak banyak yang lewat kemarin, doaku tak terantar akibatnya. Padahal aku berharap kita bisa bersama selamanya. Tapi syukurlah do’amu terkabul. Pegasus yang lembut, antar salam rinduku di senja ini untuknya. Semoga bahagia bersama ibunya.”

Lirih dan hanya bertemankan khayal pegasus yang turut pedih. Padahal tak ada awan pegasus senja ini. Arny hanya berharap, langit senja membentuk dan mengantarnya dengan selamat.

Vodka Ditelan Senja, dipersembahkan oleh : Nurmala Arfany Arista